Pulau Dem ini, meski dipisahkan sungai dan laut, masih berada di wilayah Dusun Pandansari, Desa Kedungpandan, Kecamatan Jabon. "Penduduknya hanya delapan kepala keluarga. Sekitar 30 jiwa. Dulu sembilan keluarga, tapi satunya pindah. Mereka semua bekerja sebagai penjaga tambak selama bertahun-tahun," jelas Kepala Dusun Pandansari Wariono. Delapan kepala keluarga itu masing-masing Subandi, Saliyem, Supeno, Slimin,
Sri Hariati, Misnatun, Munia, dan Priyatin.
Praktis, pulau seluas 500-600 hektare ini merupakan areal tambak udang dan bandeng. Tanaman-tanamannya pun khas vegetasi tambak. Tidak terlihat pohon-pohon besar, kecuali sejumlah tanaman baru hasil penghijauan. Tak ada jalan raya. Yang ada hanya jalan-jalan setapak di sela pematang-pematang tambak. Namun, ada beberapa sepeda motor dimanfaatkan penjaga tambak untuk membawa hasil tambak (bandeng dan udang) ke daratan sebelah.
"Di sini ayem, tenang, nggak ada mobil," kata Bu Is yang menetap di Pulau Dem bersama Supeno, suaminya, sejak 12 Desember 1989. "Saya masih sering ke Blitar, tapi sudah kerasan di sini. Pikiran lebih tenang. Apalagi, delapan anak saya sudah besar-besar semua."
Dibandingkan 20 tahun lalu, menurut Bu Is, keadaan pulau hasil endapan Kali Porong ini sudah jauh lebih ramai. Selain delapan gubuk yang kemudian menjadi rumah delapan kepala keluarga, ada lagi tujuh gubuk kosong yang dipakai pekerja tambak. Sebagian buruh tambak memang pergi-pulang Jabon-Pulau Dem setiap hari.
"Sekarang sudah banyak orang luar yang datang ke sini," kata Bu Is yang ramah ini.
SEKITAR 100 meter dari warung Bu Is, saya mampir ke rumah Saliyem (60). Dia penghuni paling lama Pulau Dem sejak 1970. "Waktu saya dan suami--sekarang nggak ada--ke sini belum ada tambak. Baru belakangan saja ada banyak tambak," ujar Saliyem. Keenam anaknya bahkan lahir di pulau ini.
Suasana di rumah Saliyem tampak sangat meriah karena hari itu sebagian besar wanita penduduk Pulau Dem berkumpul di rumahnya. Usai menyiapkan makanan untuk suami yang sibuk kerja di tambak, mereka bergurau dan bercerita ngalor-ngidul. Kehadiran kami secara mendadak tentu saja mengagetkan penduduk. Semua ingin mendengar langsung tujuan kami datang. "Titip pesan supaya kami dibantu air bersih dan puskesmas. Kalau sakit, kami sangat susah karena harus nyeberang jauh. Itu pun puskesmasnya masih bangunan thok," sela seorang wanita dengan gaya ceplas-ceplos.
Air bersih memang masalah serius di Pulau Dem. Sumur tidak ada karena airnya pasti sangat asin. Kadar garam sangat tinggi karena dikelilingi laut. Air yang di tambak membuat kulit gatal-gatal. Karena itu, Saliyem dan para penghuni lain harus membeli air bersih (jerikenan) di Jabon setiap dua hari. Air harus sangat dihemat, sehingga mereka pun terpaksa harus 'menghemat' mandi.
Jangan tanya soal hiburan karena hanya satu rumah yang dialiri listrik PLN sejak 2001. Yakni, rumah Sukari. Pria asal Kencong, Jember, yang datang pada 1973 dianggap paling mampu di Pulau Dem. Warga lain pun sebenarnya ditawari listrik. Namun, sebagai buruh tambak, mereka merasa tak mampu membayar abonemen Rp 110 ribu per bulan. "Uangnya dari mana? Untuk makan, minum, beli air saja susah," kata Saliyem.
Karena itu, setiap malam warga terpaksa menggunakan lampu minyak tanah. Dengan penerangan yang sekadarnya, anak-anak sekolah macam Muslimin, Bayu Hartanto, Nurhayati, Nurhalimah, dan Alfah belajar setiap hari. "Nggak masalah karena sudah biasa. Saya dan teman-teman bisa mengikuti pelajaran dengan baik," aku Muslimin.
Toh, Saliyem bisa menghibur sebagian warga Dem dengan televisi yang menggunakan aki (accu). Para tetangga datang untuk menonton televisi bersama-sama layaknya acara nonton bareng di kota. Tapi, karena daya aki sangat terbatas, mereka lagi-lagi harus sangat menghemat power aki itu. "Kita hanya lihat acara-acara yang bagus malam hari. Kalau siang-siang kayak sekarang, ya, jangan lihat televisi dulu," kata Saliyem.
Ketika ditanya apakah tidak ingin pindah ke Jabon atau daerah lain di Kabupaten Sidoarjo, atau ke kampung asal, Saliyem bersama 10 warga Dem yang 'menemani' saya kontan menolak. "Buat apa? Walaupun susah air, susah cari puskesmas, nggak ada listrik, hidup di Pulau Dem lebih tenang. Tinggal di kota itu terlalu banyak pikiran. Wong orang Jabon saja mau tinggal di sini," tandas Saliyem menunjuk menantunya yang berasal dari luar Pulau Dem.
Selasa, 18 Januari 2011
Senin, 01 Februari 2010
Pelantikan Perangkat Desa Panggreh
JABON : Tepatnya pada hari Kamis ( 21/01 ) sekira pukul 10.00 Wib bertempat di Balai Desa Panggreh Kecamatan Jabon – Sidoarjo, Kepala Desa Panggreh H. Moch Zainul telah melantik 2 ( Dua ) orang perangkat Desa terpilih masing – masing bernama Sumarto, 46 Tahun di lantik sebagai Kepala Dusun ( Kasun ) Desa Panggreh, sedangkan Abdul Ghofur, 38 Tahun dilantik sebagai Kaur Keuangan, selama kegiatan berlangsung berjalan aman, tertib dan lancar.
Sebelumnya ± tiga pekan yang lalu ada beberapa calon yang mengikuti test tertulis sebanyak 5 ( Lima ) calon perangkat, menurut Kepala Desa Panggreh 3 orang dinyatakan tidak lulus karena nilainya rendah, sedangkan nilai tertinggi ditempati oleh Abdul Ghofur mendapat Nilai 87 sedangkan Sumarto mendapat Nilai 78, hadir dalam pelantikan antara lain Muspika Kecamatan Jabon,Ketua Panitia dan Anggota , BPD, Kepala Desa beserta Perangkat serta Para tokoh dan Undangan sebanyak 50 Orang. ***Polres Sidoarjo / Polsek Jabon / Epang_Kiky
Sebelumnya ± tiga pekan yang lalu ada beberapa calon yang mengikuti test tertulis sebanyak 5 ( Lima ) calon perangkat, menurut Kepala Desa Panggreh 3 orang dinyatakan tidak lulus karena nilainya rendah, sedangkan nilai tertinggi ditempati oleh Abdul Ghofur mendapat Nilai 87 sedangkan Sumarto mendapat Nilai 78, hadir dalam pelantikan antara lain Muspika Kecamatan Jabon,Ketua Panitia dan Anggota , BPD, Kepala Desa beserta Perangkat serta Para tokoh dan Undangan sebanyak 50 Orang. ***Polres Sidoarjo / Polsek Jabon / Epang_Kiky
Senin, 18 Januari 2010
Puting Beliung Kembali Rusak Rumah Warga Sidoarjo

Sekolah TK Darma Wanita Desa Panggreh Jabon juga mengalami kerusakan yang sama. Selain gentengnya banyak jatuh, atap mainan anak TK roboh dan bangunan semi permanen untuk parkir itu roboh dan rata dengan tanah. "Beruntung saat kejadian tidak ada aktifitas anak-anak," terang Husnul Khotimah Kepala TK disela-sela membersihkan puing-puing reruntuhan bangunan.
Ucap Husnul, saat angin puting beliung datang, ada juga atap seng yang jatuh dan menimpa mobil Katana Sunardi, anggota Polres Pasuruan yang kebetulan mau pulang ke Panngreh. Namun seng tidak sampai mengenai tubuh Sunardi. "Hanya kerugian material. Mobil Sunardi juga terkena goresan seng yang melayang itu," terang Husnul.
Senin, 21 Desember 2009
SMKN Jabon Masih Numpang
Anggota Komisi D H. Didik Budi Santoso, ST menyatakan, Dinas Pendidikan Kabupaten (Dikab) Sidoarjo sudah merencakan pembangunan tiga ruang kelas baru untuk SMKN Jabon. "Mereka akan menganggarkannya secara bertahap," ucap Didik.
Politikus dari Hanura itu belum mengetahui anggaran yang dialokasikan untuk sekolah tersebut. Yang jelas, dalam ABPD 2010, Dinas PU Cipta Karya menganggarkan pembangunan sekolah di Sidoarjo sebesar Rp 13,4 miliar.
Selain untuk SMKN Jabon, dana tersebut dimanfaatkan untuk meneruskan pembangunan SMAN 2 Sidoarjo dan SMPN 2 Sidoarjo yang baru.
Plt Kepala SMKN Jabon Heru Mursanyoto sangat berharap, pembangunan gedung baru di atas lahan seluas 3 hektare yang sudah dibebaskan tersebut bisa segera dilaksanakan. Apalagi, pada penerimaan siswa baru 2010-2011 pihaknya akan tetap membuka peluang untuk siswa baru di sekitar Jabon yang ingin bersekolah di SMK.
Selama ini, 157 siswa yang terbagi atas empat jurusan belajar secara terpisah, yakni di SMKN I Sidoarjo dan Buduran. Misalnya, siswa jurusan teknik elektro industri dan teknik kendaraan ringan dititipkan di SMKN 1 Sidoarjo. Sementara itu, siswa yang mengambil jurusan tata busana melakukan praktikum dengan menumpang di SMKN 1 Buduran. Nah, siswa jurusan multimedia melakukan praktik di SMKN 2 Buduran. "Untuk belajar teori, kami masih gunakan gedung SMPN 1 Jabon sebagai ruang kelas," tambah Heru.
Dia berharap, dengan adanya ruang kelas baru nanti, siswa dapat belajar di gedung sendiri. Sebab, sebagian besar siswa SMKN Jabon berdomisili di Porong, Krembung, dan Tanggulangin. "Perjalanan menuju sekolah terlalu jauh," paparnya. Menurut Heru, meski hanya tiga ruang yang akan dibangun, pihaknya akan berusaha memanfaatkannya secara maksimal. "Mungkin, belajar teori dan praktik untuk sementara di satu ruangan," jelasnya. (Sumber : Koran Jawa Pos "nuq/ib")
Politikus dari Hanura itu belum mengetahui anggaran yang dialokasikan untuk sekolah tersebut. Yang jelas, dalam ABPD 2010, Dinas PU Cipta Karya menganggarkan pembangunan sekolah di Sidoarjo sebesar Rp 13,4 miliar.
Selain untuk SMKN Jabon, dana tersebut dimanfaatkan untuk meneruskan pembangunan SMAN 2 Sidoarjo dan SMPN 2 Sidoarjo yang baru.
Plt Kepala SMKN Jabon Heru Mursanyoto sangat berharap, pembangunan gedung baru di atas lahan seluas 3 hektare yang sudah dibebaskan tersebut bisa segera dilaksanakan. Apalagi, pada penerimaan siswa baru 2010-2011 pihaknya akan tetap membuka peluang untuk siswa baru di sekitar Jabon yang ingin bersekolah di SMK.
Selama ini, 157 siswa yang terbagi atas empat jurusan belajar secara terpisah, yakni di SMKN I Sidoarjo dan Buduran. Misalnya, siswa jurusan teknik elektro industri dan teknik kendaraan ringan dititipkan di SMKN 1 Sidoarjo. Sementara itu, siswa yang mengambil jurusan tata busana melakukan praktikum dengan menumpang di SMKN 1 Buduran. Nah, siswa jurusan multimedia melakukan praktik di SMKN 2 Buduran. "Untuk belajar teori, kami masih gunakan gedung SMPN 1 Jabon sebagai ruang kelas," tambah Heru.
Dia berharap, dengan adanya ruang kelas baru nanti, siswa dapat belajar di gedung sendiri. Sebab, sebagian besar siswa SMKN Jabon berdomisili di Porong, Krembung, dan Tanggulangin. "Perjalanan menuju sekolah terlalu jauh," paparnya. Menurut Heru, meski hanya tiga ruang yang akan dibangun, pihaknya akan berusaha memanfaatkannya secara maksimal. "Mungkin, belajar teori dan praktik untuk sementara di satu ruangan," jelasnya. (Sumber : Koran Jawa Pos "nuq/ib")
Rabu, 07 Oktober 2009
Sidoarjo Juga Digoyang Isu Gempa
SIDOARJO - Isu gempa yang berpotensi tsunami mengguncang Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (7/10/2009), membuat warga cemas. Bahkan, siswa di beberapa sekolah dipulangkan lebih awal. Saat jam belajar masih berlangsung mereka berhamburan keluar ruang sekolah.
Kabar terjadinya gempa itu diperoleh salah seorang guru di SMP Negeri 2 Sidoarjo. Selain itu di masyarakat juga sudah beredar kabar kalau antara pukul 12.00 sampai 13.00 WIB akan terjadi gempa di kawasan Sidoarjo.
Kondisi panik terlihat di SMPN 2 Sidoarjo, siswa terpaksa dipulangkan sebelum jam sekolah usai. "Kami memulangkan seluruh siswa sebelum jam pelajaran berakhir, karena mendapat informasi ada gempa," ujar Kepala Sekolah SMPN 2 Sidoarjo, Ambar Sri Sulastri, Rabu (7/10/2009) siang.
Ambar mengatakan isu gempa diterimanya dari seorang pengajar setempat. Dia dilapori bahwa di Sidoarjo bakal terjadi gempa. Bahkan, tak tanggung-tanggung, kekuatan gempa tersebut diperkirakan sebesar 8,8 skala Richter. Jauh lebih besar dibandingkan gempa yang meluluhlantakkan Sumatera Barat, yang hanya sebesar 7,6 skala Richter.
Saat menerima informasi, Ambar mengaku tak menggubris isu tersebut. Namun dia berubah panik, ketika sejumlah guru menghadap dan meminta siswa dipulangkan.
"Saya langsung berkoordinasi dengan kepala sekolah beberapa sekolah lain terkait isu itu. Disekolah lain ternyata sama, isu gempa itu membuat siswa panik," urai Ambar.
Tanpa menunggu lama, dia langsung berkoordinasi dengan Zaini, Sekretaris Diknas Pemkab Sidoarjo. "Pak Zaini mengatakan kalau memang takut, tidak apa-apa kalau murid-murid dipulangkan," akunya.
Akhirnya siswa dipulangkan pada sekira pukul 11.30 WIB. Namun, siswa ketika mendengar kabar itu langsung berhamburan keluar sekolah. Mereka ada yang menangis karena takut terjadi gempa. Apalagi dalam menyampaikan kabar itu melalui pengeras suara.
"Saya sudah telepon bapak agar segera dijemput. Saya takut kalau gempa itu benar terjadi," ujar Dinda, siswa kelas 8 SMPN 2 Sidoarjo yang tampak pucat karena takut gempa.
Dengan memulangkan siswa, Ambar mengaku bak makan buah simalakama. Di satu sisi, dia takut akan ditegur pihak Diknas. Sedangkan di sisi lain, dia adalah penanggung jawab sekolah, dan harus bertanggung jawab penuh terhadap keselamatan siswa-siswinya. "Saya telepon guru sekolah lain juga memulangkan siswanya lebih awal," tandasnya.
Selain di Kecamatan Sidoarjo, keresahan akibat isu gempa itu juga terjadi di beberapa kecamatan lain. Di antaranya di Kecamatan Sukodono, Waru, Taman, Sedati, Gedangan, bahkan Krian yang berjarak puluhan kilometer dari kawasan pesisir Sidoarjo.
Maslichah, guru SDN Suko Kecamatan Sukodono mengatakan, pihak sekolah terpaksa memulangkan siswa lebih awal karena takut gempa. "Karena kabar gempa itu, siswa terpaksa dipulangkan," ucapnya.
Bukan hanya itu, warga di kawasan Saimbang, Keamatan Sukodono juga digegerkan adanya kabar gempa. Bahkan, ada warga yang mengatakan kalau kabar adanya gempa itu diinformasikan melalui pengeras suara.
"Ada orang yang menginformasikan melalui pengeras suara. Dari rumah saya terdengar ada imbauan waspada gempa yang terjadi pukul 12.00 sampai 13.00 WIB," ujar salah satu warga Saimbang.
Isu gempa itu juga terdengar oleh Bupati Sidoarjo Win Hendrarso. Win mengimbau kepada warga Sidoarjo jangan terpancing isu gempa. "Saya mengimbau warga agar tenang dan jangan terpancing isu yang belum jelas kebenarannya," tegasnya.
Win menambahkan, sepanjang informasi itu bukan dari aparat berwenang seperti BMG masyarakat jangan panik. Apalagi secara keilmuwan belum bisa dijelaskan secara rinci kapan datangnya gempa itu.
"Kalau memperoleh informasi seperti itu lagi (gempa) dicermati secara tenang. Karena belum jelas kebenarannya. Jadi jangan ditanggapi terlalu reaktif," ujar Win Hendrarso usai mengecek ke beberapa dinas dan instansi lain terkait isu itu.
Kapolsek Sukodono, AKP Kasiani yang mendapat informasi itu langsung menelusuri isu itu. Ternyata memang ada orang yang membawa mobil berkeliling untuk mempromosikan pasar malam. "Bukan gempa tapi gebyar, kedengarannya gempa. Sudah saya cek tidak ada pengumuman seperti itu," ujarnya.
Setelah ditelusuri, isu gempa berpotensi tsunami itu berawal dari berita di sebuah media online. Media tersebut memberitakan pernyataan Gubernur Soekarwo yang mengimbau seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur untuk mewaspadai kemungkinan terjadinya gempa berkekuatan 8,8 skala Richter.
Imbauan itu, berdasar penelitian LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Ternyata, imbauan itu disalahartikan. Dari mulut ke mulut, berita tersebut akhirnya tersebar luas dan membuat panik masyarakat di sejumlah daerah di Jawa Timur.
Senin, 07 September 2009
LETAK RENCANA PEMBANGUNAN SMKN JABON
Disinilah pemerintah Sidoarjo akan membangun gedung SMKN yang saat ini belum terlaksanaSeptember 2009 dan siswa baru SKMN Jabon sekarang masih menempati SMPN 1 Jabon Sidoarjo dan peta ini bisa dilihat di Wikimapia dengan alamat Desa Panggreh.
Untuk meningkatkan kualitas pendidikan bagi anak didik di Kecamatan
Jabon, pada tahun 2009 nanti direncanakan akan dibangunkan sebuah
SMK Negeri di daerah itu. Supaya anak didik tidak jauh-jauh bersekolah di
pusat kota Sidoarjo.
Dipilihnya membangun sekolah kejuruan menurut Kepala Dinas Pendidikan
Sidoarjo-MG Hadi Sutjipto SH, akhir pekan kemarin, agar anak didik yang
tidak bisa kuliah bisa dicetak untuk siap kerja.
Tetapi Tjipto tidak bersedia menyebut dulu, apa jenis sekolah menengah
kejuruan tersebut.
Peningkatan pendidikan di Kecamatan Jabon, dimaksudkan juga agar
wilayah itu tidak terus dipandang sebelah mata. Pada tahun ini dana yang
terserap untuk peningkatan pendidikan Jabon mencapai Rp 6.5 M.
Untuk pembangunan gedung SMKN, direncanakan akan dimulai tahun
2009. Sedangkan untuk pembebasan lahannya pada tahun ini. Lahan yang
diperlukan seluas 3 ha.
Lokasi yang dipilih di Desa Panggreh. Desa ini berada di tengah-tengah
desa lain di Kecamatan Jabon. Sehingga bisa gampang dijangkau oleh
anak didik dari desa lainnya.
Tjipto memotivasi anak didik di Kecamatan Jabon, karena dari Desa Trompo
Asri kecamatan Jabon, telah melahirkan orang "besar" di dunia
pendidikan. Yakni Prof DR Sugianto-mantan guru besar UNESA Surabaya
dan Rektor Universitas Wijaya Putra.(sumber : BHIRAWA/ali) kembali
Selasa, 01 September 2009
Bermain-main dengan Blend – Tutorial Corel Draw
Di postingan lalu kita pernah menggunakan Tool Fountain fill. Tool ini berguna untuk membuat gradasi dengan 2 warna. Untuk jelasnya bisa dilihat disini. sekarang kita akan bermain-main dengan effect blend, efek yang fungsinya hampir sama dengan fountain fill cuma jika pada fountain fill objek yang digradasikan warnanya adalah keseluruhan, tetapi pada effect blend yang di gradasikan warnanya hanya objek tertentu
gambar di atas adalah gradasi warna dengan menggunakan Fountain Fill
Effect Blend
Buat 2 buah object seperti pada gambar di bawah dengan 2 warna yang berbedasetelah itu carilah tool effect kemudian pilih blend
pada sisi kanan layar akan ada windows baru yang mana windows baru itu berisi parameter-parameter untuk mengatur setingan blend. Untuk gambar di atas gunakan parameter seperti pada gambar
pada gambar atas number of step digunakan 90, rotate 0. untuk parameter number of step bisa diisikan berapa aja sesuai kebutuhan. Bila semua parameter sudah di tentukan kemudian klik apply dan hasilnya bisa dilihat di gambar atas.
pada gambar 1 gradasi warna menggunakan fountain fill, disitu terlihat warna tergradasi rata mulai dari bawah sampai atas. Sedangkan pada gambar 2 menggunakan effect blend dan terlihat bahwa warna yang tergradasi hanya di bagian object yang berwarna dasar merah.
gambar di atas adalah gradasi warna dengan menggunakan Fountain Fill
Effect Blend
Buat 2 buah object seperti pada gambar di bawah dengan 2 warna yang berbedasetelah itu carilah tool effect kemudian pilih blend
pada sisi kanan layar akan ada windows baru yang mana windows baru itu berisi parameter-parameter untuk mengatur setingan blend. Untuk gambar di atas gunakan parameter seperti pada gambar
pada gambar atas number of step digunakan 90, rotate 0. untuk parameter number of step bisa diisikan berapa aja sesuai kebutuhan. Bila semua parameter sudah di tentukan kemudian klik apply dan hasilnya bisa dilihat di gambar atas. Trus Apakah bedanya effect blend dengan fountain fill tool? saya akan membandingkan kedua gambar tersebut
pada gambar 1 gradasi warna menggunakan fountain fill, disitu terlihat warna tergradasi rata mulai dari bawah sampai atas. Sedangkan pada gambar 2 menggunakan effect blend dan terlihat bahwa warna yang tergradasi hanya di bagian object yang berwarna dasar merah. Untuk lebih jelasnya lagi, jika pada fountain fill warna dan object menjadi 1 kesatuan, sedangkan pada effect blend warna dan object adalah bagian yang terpisah-pisah. Gunakan Wireframe dan terlihat dengan jelas perbedaan gambar 1 dan gambar 2
Pemakaian kedua fungsi ini disesuaikan dengan kebutuhan. Fountain fill lebih banyak digunakan untuk membuat background atau efek bayangan rata, sedangkan effect blend lebih banyak digunakan untuk membuat efek bayangan pada gambar vector.
nb: Effect blend lebih memakan banyak space hardisk dan memory bila dibandingkan dengan fountain fill
Langganan:
Postingan (Atom)


